Motorcycle Vespa

Kamis, 14 Maret 2013

Resensi Novel Sepatu Dahlan

TUGAS BAHASA INDONESIA
RESENSI NOVEL SEPATU DAHLAN
KARYA KRISNA PABICHARA

 


 Di Susun Oleh :

Nama                              : Agung Andrety
                                         Angga Eka Aryanto
                                         Ricky Achmad Arrizal
Kelas                              : XII Instrumentasi logam




PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR
DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 1 GUNUNG PUTRI
                                         KELOMPOK TEKNOLOGI DAN REKAYASA
Jl. Barokah No. 06 Wanaherang,Gunug Putri – Bogor
Telp. : (021) 8673310 E-mail : smkn1gnp@hotmail.com
                                                       Website : smkn1gnputri.sch.id
Jawa Barat 2013




KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan resensi dari buku “Sepatu Dahlan” karya Khrisna Pabichara. Adapun penulisan resensi ini untuk menyelesaikan salah satu tugas Bahasa Indonesia. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya guru pembimbing kami Suyanti S.Pd yang banyak membantu dalam penyelesaian tugas resensi ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa resensi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati kami mohon perkenaan para pembaca untuk memberikan saran dan kritik. Khususnya guru pembimbing kami Suyanti S.Pd. Harapan kami resensi ini bermanfaat bagi pembaca khususnya keluarga besar SMKN 1 GUNUNGPUTRI.                         
Terima kasih.


Bogor, 16 Februari 2013

Penyusun


RINCIAN BUKU
  

[No. 291]
Judul                     :Sepatu Dahlan
ISBN                      :978-602-9498-24-0
Penulis                   :Khrisna Pabichara
Penerbit                  :Noura books ( PT Mizan Publika )
Ketebalan Buku        :392 hlm
Panjang                    :21 cm
Tahun Terbit              :Mei 2012

  
SINOPSIS
1 Sinopsis Novel
                Kemiskinan bagi penduduk Kebon Dalem bukan halangan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin walaupun harus bekerja nguli panggul,menggarap tanah bengkok,buruh harian di perkebunan tebu,kuli nyeset demi sesuap nasi tiwul dan upah yang hanya diterima sekali setiap bulan.
Dahlan yang dimarahi oleh bapaknya karena lulus mendapat nilai merah dua didalam ijazahnya,dengan rasa sedih dan penyesalan dihatinya.Dahlanpun ingin sekolah SMP Magetan sekolah idamanya.lalu bapaknya melarangnya karena factor biaya dan jauh.lalu Dahlan mempunyai muslihat untuk dapat bersekolah di SMP Magetan dengan mencoba dengan muslihat yaitu berpura-pura bermimpi dengan Kiai Mursjid yang sangat dihormati oleh bapaknya.lalu Dahlan sebenarnya ingin mengatakan bahawa dia ingin sekolah di SMP Magetan tetapi dia tidak bisa membohongi orangtuanya.Kemudian pagi harinya bercerita tentang seorang pemuda yang menggendong ibunya yang sudah uzur dari negeri Yaman ke Tanah Suci untuk berangkat haji.setelah mendengar cerita dari bapaknya Dahlanpun memutuskan untuk bersekolah di Pesantren Takeran atas permintaan bapaknya karena kelurganya semuanya bersekolah disana.Dahlanpun masuk ke Pesantren Takeran dengan melawati masa orientasi yang menyenangkan terutam dengan kata-kata sambutan yang bijak dari Uztadz Ilham yang membuat Dahlan bersalah karena telah memandang remeh Pesantren ini.
Sejarah Pesantren Takeran tak bisa dipisahkan dengan pelarian Pangeran Diponegoro,Kiai Hasan Ulama bersama sahabatnya Kiai Muhammad Ilyas yang mendirikan Pesantren Takeran pada Tahun 1430 H.sejarah Pesantren Takeran juga tidak lepas dari sejarah Kiai Mursjid yang mengubah nama Pesantren Takeran menjadi Pesantren Sabilil Muttaqien yang ditahan oleh FDR yang didampingi oleh sahabatnya Imam Faham dan tidak kembali lagi.setalah pulang dari mengikuti tim bola voli Imran,dan Arif mengajak Dahlan dan Kadir  bermain ke Sumur tua yaitu Suco,dan Cigrok yang membuat sahabatnya Kadir gelisah.ketika diajak bermain ke Sumur tua tersebut terutama sumur Cigrok.
Kisah sedihpun meraungi Dahlan karena ibunya jatuh sakit ,bapaknya tidak ada dirumah,dan Dahlanpun tidak berdaya.Dahlan tidak bias tidur biar terlupakan sebentar saja dengan kesedihan yang tidak diharapkan itu.Dahlanpun menghibur Zain adiknya membujuknya agar berhenti menangis Karena menahan lapar diperutnya.Akhirnya Dahlanpun terpaksa harus mencuri sebatang tebu untuk dapat mengisi isi perut adiknya Zain itupun ketahuan oleh Bang Malik dan Bang Supomo anak buah pemilik kebon tebu yang akhirnya Dahlan harus dihukum selama seminggu membersihkan perkarangan tebu tanpa upah sepeserpun.keesokan harinya kakaknya Mbak Sofwati datang dan menasehati Dahlan agar tidak mencuri tebu lagi dengan merangkul kedua adiknya dengan mengucapkan kata-kata yang bijak yaitu “Ojo Wedi Melarat Yang Penting Tetap Jujur dan “Kita Boleh Miskin Harta Tetapi Kita Tidak Boleh Miskin,kata-kata yang membuat Dahlan merasa bersalah dan menangis dengan kata-kata yang diucapkan oleh kakaknya.
Keesokan harinya Dahlan mendapat berita dari bapaknya kalau ibunya sudah tiada (meninggal dunia) yang sulit bagi Dahlan untuk menghadapi kehilangan ibu yang amat dia sayangi,setelah ditinggalnya ibunya keesokan harinya musibahpun datang lagi yaitu harus mengganti sepede Maryati anak juragan buah yang waktu itu dirusak oleh Dahlan ketika belajar sepeda oleh Maryati,Dahlanpun harus mengganti dengan 3 ekor domba dan sepeda ringsek Maryatipun milik Dahlan.
Dengan kepolosan ,ketekunan,kerajinan,ketakwaan yang dimiliki oleh Dahlan ,Dahlanpun terpilih sebagi pengurus ikatan santri yang baru,yang harus memegang amanat yang dibebankan olehnya .keesokan harinya Dahlan bermain dengan teman-temanya memanjat kelapa Gading,Dahlan yang merasa bersalah karena telah meninggalkan Zain sendirian di rumah dan ahirnya Zain marah membisu tidak mau bicara dengan Dahlan.keesokan harinya Dahlan panic karena melihat adiknya Zain pucat pasi karena menahan lapar,kemudia pada saat yang tepat Komariyah datang membawa sepiring nasi tiwul ditangannya untuk Dahlan dan Zain.setelah selesai makan Dahlanpun harus meninggalkan Zain lagi sendiri dahlan harus pergi ke sekolah karena harus latihan voli untuk menghadapi pertandingan tingkat Kabupaten nanti.dalam perjalanan menuju sekolah dia bertemu dengan Aisha gadis berambut panjang pujaan hatinya yang sedang menjemur pakaian dirumah Bang Malik,setelah tiba di sekolah Dahlanpun menulis logika berdoa untuk Aisha yang ternyata ketahuan oleh Uztadz Hamim dan suruh membacanya ke depan,namun Dahlanpun tidak jadi membaca logika berdoanya kedepan karena tiba-tiba Imran datang dan bicara bahwa dia ingin bergabung dengan tim voli.
Kabar tentang uji tandingpun sudah tersiar apalagi lebaran sudah berlalu 3 hari yang lalu.uji tandingpun berlangsung dengan angka kejar-kejaran yaitu 14 sama yang memaksakan untuk Deuce.Imran yang pertama kalinya bermain voli mempertunjukan servis kerasnya ke Maksum hingga 3 kali dan Maksumpun tidak mampu menahan servisnya pertandinganpun dimenangi.
Keesokan harinya finalpun akan segera dilaksanakan,Dahlan yang panik karena peraturan final nanti seluruh pemain harus memakai sepatu,Dahlanpun membuka lemari bapaknya yang isinya uang tabungan bapaknya yang hanya ada  sebesar RP.7.500 dan mengambilnya.lalu setelah berhasil mengambil uang milik bapkaknya Dahlanpun mengajak Arif untuk menemaninya belanja sepatu di Pasar Madiun dan ternyata harga sepatunya mahal-mahal uang yang dimiliki tidak cukup.Dahlanpun pulang kerumah dan mengembalikan uang yang dicuri dari lemari bapaknya ke tempat semula.
Keesokan harinya  finalpun dilaksanakan Dahlan yang merasa gelisah karena belum juga mendapatkan sepatu,lalu  tiba-tiba Maryati datang ke lapangan membawa sepasang sepatu untuk Dahlan.Pertandinganpun dimulai dan dengan seimbang.Dahlan yang baru saja merasakan menggunakan sepatu kakinya perih dan lecet-lecet dan harus diganti dengan Fadli,ternyata ukuran sepatunya pas dengan Fadli,pertandinganpun dilanjutkan kembali dengan seru.tiba-tiba Fadli yang memakai sepatu Dahlan kakinya lebih parah dari Dahlan,kakinya bengkak,dan berdarah,dan harus diganti oleh Dahlan kembali.Anehnya tiba-tiba sepatu yang digunakan Dahlan menjadi lebar setelah meminum Air dari Kiai Irsjad.pertandinganpun dilanjutkan kembali dengan seru yang akhirnya dimenangkan oleh Pesantran Takeran.

Setelah menang voli,keesokan harinya Arif datang dan membawa kabar gembira bahwa Dahlan diminta untuk melatih tim bola voli anak-anak pegawai pabrik gula dengan gaji Rp.10.000 setiap bulan.tapi kata Dahlan Pabrik gula Gorang-Garengkan jauh ,Arifpun menjawab “Kamu pakai sepedaku saja dengan mencicil Rp.4.000 selama  3 bulan dan sepeda itu milikmu.

Kesaksian Kadir yang membuat Imran salah paham tentang Kesaksian yang bercerita tentang ayahnya yang selama ini menjadi teka-teki oleh Dahlan dan teman-temanya.setelah mendengar kesaksian Kadir teman-temanya Dahlan bermain ke rumah Dahlan termasuk Imran.Setelah tiba di rumah Dahlan dan teman-temanya menuju Langgar dan mendengarkan cerita bapaknya Dahlan tentang Perseteruan Murid Zen,setelah mendengarkan cerita bapaknya Dahlan,Imran bergegas mengajak teman-temanya ke ruma Kadir lagi dengan meminta maaf atas kesalahpahamannya kepada kadir

kehidupan telah mendidik DAHLAN kecil dengan keras. Baginya rasa PERIH karena LAPAR adalah sahabat baik yang enggan pergi. Begitu pula dengan LECET di kakinya, sebagai bukti perjuangan dalam meraih ILMU. Dia harus berjalan berkilo-kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki alias “NYEKER”.
Tak hanya itu, sepulang belajar, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya demi sesuap “TIWUL”. Mulai dari Nguli Nyeset, Nguli Nandur, sampai melatih tim voli anak-anak juragan tebu. Semua itu tak membuat Dahlan putus asa. Tak juga berarti keriangan masa kanak-kanaknya hilang. Ketegasan sang Ayah dan kelembutan hati sang Ibu, membuatnya tetap bertahan.
Persahabatan yang murni menyemangatinya untuk terus berjuang. Dan apapun yang terjadi, Dahlan terus berusaha mengejar DUA cita-cita besarnya yaitu “SEPATU” & “SEPEDA”. Dialah anak miskin yang menikmati kemiskinannya & bukan untuk ditakuti ataupun disesali.akhirnya Dahlan punya sepatu dan sepeda setelah kerja kerasnya melatih bola voli di Pabrik gula selama 3 bulan,kemudian ditambahkan uang oleh Bapaknya sebesar Rp.12.000 untuk membeli sepatu ,dan akhirnya Dahlanpun membeli 2 buah sepasang sepatu satu untuknya dan satu untuk dia.

Dahlan yang bersedih karena takut kehilangan sahabat yang begitu murni,yang saling mendukung,selalu menghadapi bersama-sama.selalu memberikan semangat juang,sahabat yang penuh canda tawa bersama .karena sudah lulus.ketika malam tiba Arif berkunjung ke rumah Dahlan dengan sepeda dan melaju dengan sangat kencang untuk menerikan Surat Penting dari Aisha untuk Dahlan yang isinya bahwa Gadis pujaan hatinya ternyata menaruh perasaan juga kepada Dahlan dan Dahlan suruh menunggu 3 Tahun karena Aisha kuliah di Yogya.dan akhirnya Dahlanpun berpikir untuk kuliah juga dan merantau ke Samarinda tempat kakaknya ,keesokan harinya Dahlan meminta izin kepada bapaknya untuk merantau ke Samarinda walau berat harus meninggalkan adiknya Zain yang begitu amat dia sayangi,akhirnya restu dari bapakpun terkabulkan Dahlanpun  diam-diam menyiapkan surat balasan untuk Aisha….dan membalas surat untuk Aisha.
 
 

0 komentar:

Poskan Komentar